Rumah Joglo Jawa

Sejarah Rumah Joglo Jawa

Peradaban India telah memiliki dampak yang mendalam tentang Indonesia, khususnya Jawa dan Sumatera. Selama periode ini kerajaan Mataram meninggalkan jejak pada sebuah arsitektur di Jawa. Untuk milenium, aristokrat Jawa, istana, ulama dan orang beragama mulai mempelajari dan mengadaptasi cara peradaban India.

Rumah Joglo Jawa

Buddhisme dan Hindu dapat dicampur dengan animisme Jawa asli untuk membentuk kombinasi unik dari struktur dan patung makna penting. Arsitektur candi di Jawa Tengah, sebagai dataran tinggi Dieng, Borobudur dan Prambanan, adalah bukti peradaban besar yang berkembang sebagai akibat dari pengaruh India. Arsitektur monumental di Hindu-Jawa masyarakat adalah sebuah konsep yang mencakup urutan cermin terestrial dan angkasa. Raja adalah perwujudan dari semua negara suci, seperti raja, AOS istana adalah salinan dari mikrokosmos-mikrokosmos.

Bagi orang Jawa, raja, AOS pengadilan dan modal membentuk citra tatanan ilahi dan paradigma tatanan sosial. Pengadilan, itu, AOS aktivitas, gaya AOS itu, AOS organisasi, yang AOS bentuk sepanjang hidup, adalah reproduksi dari dunia dan memberikan gambaran dari dunia tak bisa dilihat. Menurut tradisi keagamaan dunia yang stabil, berdasarkan konflik, tugas bahwa setiap orang Jawa harus perfom adalah untuk menyelaraskan konflik. Dualitas energi yang dimiliki oleh kutub dari sistem ganda rangka stabil dan didekati oleh pusat energi ketiga. Pusat, dalam kosmologi Jawa bagian tengah kosmos, gunung Mahameru kosmik. Pusat ini akan menjadi manifestasi langsung dari Infinite, Allah yang Agung. The Ultimate Mahameru adalah pusat, tempat tinggal Allah yang Agung, sementara orang, Guru penciptaan pusat ini adalah tempat tinggal sementara dari Allah Tak Terbatas.

Sebuah rumah Jawa adalah tiga bangunan terpisah yang membentuk keseluruhan. Yang pertama adalah pendapa, sebuah paviliun terbuka yang digunakan untuk menerima tamu dan pertunjukan. Patung Intrictae terletak di kedua ujung empat pilar utama, saka guru, di dalam bagian tengah pendapa itu. Struktur kedua, pringgitan, adalah fase sementara yang didirikan di setiap wayang memainkan permainan bayangan Cina. Struktur ketiga, Dalem ageng, adalah struktur hanya berdinding di mana, AOS dibagi menjadi dua atau tiga kamar. Para krobongon, aula pusat, adalah yang paling suci dari semua rumah, karena memang ditujukan untuk penerimaan Dewi Sri, kesuburan simbol dan wakil dari ilahi serta nenek moyang orang Jawa. Ini juga tempat di mana tindakan meditasi dan ritual diadakan. Dua kamar di mana keluarga tidur di malam hari.

Rumah Jawa merupakan bangunan suci yang terkandung dalam kesucian dan krobongan pendapa, dan diperkuat oleh makna dari Saka guru. Rumah adalah di mana urusan duniawi mengekspresikan kesucian kehidupan.

Bagian-Bagian Rumah Joglo Jawa

Rumah joglo merupakan bangunan arsitektur tradisional Suku Jawa. Rumah joglo mempunyai kerangka bangunan utama yang terdiri dari soko guru berupa empat tiang utama penyangga struktur bangunan serta tumpang sari yang berupa susunan balok yang disangga soko guru.

Soko Guru Rumah Joglo Jawa

Susunan ruangan pada Joglo umumnya dibagi menjadi tiga bagian yaitu ruangan pertemuan yang disebut pendhapa, ruang tengah atau ruang pringgitan, dan ruang belakang yang disebut dalem atau ruang keluarga.

Seiring perkembangan waktu banyak rumah joglo di redesign untuk keperluan tempat tinggal yang lebih modern namun tidak meninggalkan filosofinya tradisi rumah joglo tersebut.

Cara Membangun dan Kisaran Biaya

Bahan Rumah adat Jawa di masa lalu semua bagiannya terbuat dari kayu, baik tiang-tiang utama, balok penyangga atap, lantai, maupun dinding bagian dalam rumah joglo. Untuk tiang-tiang penyangga biasanya terbuat dari kayu jati, sedangkan bagian lainnya terbuat dari kayu sonokeling. Sedangkan penutup atap yang lazim digunakan adalah genteng tanah liat.

Cara membangun atap rumah joglo

1. Seluruh permukaan tanah dipadatkan agar tidak menurun saat tiang soko guru didirikan. Setelah pondasi diletakkan, kemudian soko guru dipasang dengan jarak yang sama. Setelah soko guru terpasang, tahap selanjutnya adalah memasang konstruksi penyangga atap.
2. Tumpang sari dipasang di atas soko guru. Kemudian kuda-kuda diletakkan di atas ring balok, lalu diikat menggunakan gording.
3. Balok berukuran 5 x 10 cm dipasang diagonal di antara kuda-kuda.
4. Kayu kaso (kasau) dipasang di atas gording. Kemudian reng dipasang di atas kasau. Jarak reng disesuaikan dengan jenis penutup atap yang akan digunakan.
5. Pasang penutup atap.

Perkiraan biaya

Mengingat seluruh bagian rumah adat Jawa asli terbuat dari kayu, maka diperlukan sekitar 5,7 meter kubik kayu untuk membangun pendoponya saja. Kayu jati hanya digunakan untuk bagian penyangga (soko guru) saja, karena akan sangat berisiko bila seluruh kerangka penyangga atap juga dibuat dari kayu jati. Rincian biaya secara garis besar adalah: 1. Kayu jati per meter kubik Rp 7 juta 2. 5,7 meter kubik kayu sonokeling @ Rp 6 juta = Rp 34, 2 juta 3. Genteng tanah liat @ Rp 1100

Kelebihan dan Kekurangannya

Kelebihan Rumah Joglo Jawa

Sebagai kekayaan arsitektur tradisional Indonesia, rumah adat Jawa memiliki kelebihan sebagai berikut:

  1. Berkat adanya bentuk atap yang meruncing di bagian tengah, udara di dalam rumah akan terasa sangat sejuk.
  2. Tersedia area cukup luas untuk bersosialisasi, baik dengan sesama anggota keluarga atau tamu yang datang berkunjung.
  3. Adanya pembagian ruang untuk semua keperluan, baik untuk aktivitas jasmani maupun rohani.
  4. Rumah joglo dapat dipindahkan ke lokasi lain, sama seperti rumah prefabrikasi.
  5. Lantaran semua bagiannya terbuat dari kayu, rumah adat Jawa lebih mampu mengatasi hawa panas yang datang dari luar.
  6. Lebih ramah lingkungan dan sisa material tidak sulit dibersihkan.

Kekurangan Rumah Joglo Jawa

Agar seimbang, kekurangan rumah adat Jawa yang disebutkan di bawah ini juga perlu diketahui:

  1. Pada dasarnya, rumah joglo adalah rumah para bangsawan atau orang kaya jaman dahulu. Diperlukan lahan yang sangat luas untuk bisa membangun rumah joglo asli yang lengkap dengan pendopo, pringgitan, senthong dan gandhok.
  2. Diperlukan biaya cukup besar untuk membangun rumah adat Jawa asli, akibat semakin mahalnya harga material kayu.
  3. Segala aktivitas yang dilakukan di pendopo akan terlihat dengan jelas oleh para tetangga. Jelas kurang cocok untuk mereka yang menyukai privasi tinggi.
  4. Bila genteng penutup atap bergeser atau pecah, maka ruangan di bawahnya akan bocor saat hujan dan terpapar cahaya matahari langsung saat cuaca sedang cerah.
  5. Tanpa adanya dinding penutup, lantai area pendopo lebih mudah kotor akibat debu.

Anda berminat membangun rumah joglo?

Hubungi Kami: DalimanĀ 0853-2932-2185